Apr 8, 2011

Bali & Alergi

Bukan bermaksud bikin suasana makin panas dengan adanya artikel di majalah Times yang mengatakan Bali adalah pantai Neraka, but yeah.. for me? Bali is a lil bit Dangerous. Memang perjalanan saya menyenangkan, it was so fun at there. The Crowded legian, the beautiful Dreamland Beach and how's green the Uluwatu and Garuda Wisnu Kencana. But for Kuta, ow ow... that's was absolutely dirty.

To be honest, i have to say, Kuta is not beautiful as i imagine. Pantainya kotor, sangat kotor dengan banyaknya pedagan asongan yang berkeliaran disana sini. Keinginan saya untuk berlama-lama di pantai itu surut dan akhirnya saya malah tidur di kamar hotel. Geezz...


Lihaaatt, kotor bukaaann???


Oh iya, juga banyak sekali pembangunan di Kuta yang bikin suasana makin nggak okeh aja! Hadoohh, rada-rada gemanaaa geto ke Bali kemaren, hikkzz... Sampai akhirnya yang paling nyebelin itu adalah banyaknya bakteri di pantai Bali yang membuat alergi saya kambuh. Saya setuju dengan artikel dimajalah times yang mengatakan bahwa Bali memang harus lebih berbenah lagi. Tolooonnggg, pikirkanlah nasib orang-orang seperti saya yang kulitnya sangat sensitif.

ALERGI! Memang saya punya alergi, tapi nggak separah iniiii.. bayangin udah 5 hari badan saya beruntusan merah dan guatelnya puoll sampe berobat segala. Padahal biasanya alergi itu paling cuma sehari dua hari dan hanya dibagian tertentu saja, seperti tangan dan leher.

Malam itu setelah puas menonton Kecak di Uluwatu, saya dan teman-teman memutuskan untuk makan di Jimbaran. Lalu dipesanlah ikan kerapu bakar dan cumi goreng tepung. Gigitan pertama kedua ketiga masih oke. Lalu selanjutnya mulai gatal lah badan saya. Okeh saya sudahi makan cuminya lalu beralih ke ikan kerapu. Saat itu gatal yang saya rasa masih biasa.

  (I lost the photo, sigh...)

Hingga saat sudah kembali ke hotel lalu saya lihat kaki dan tangan saya mulai berubah warna kemerahan. Disitu juga saya masih tetap positif thinking kalo ah paling cuma merah biasa, bentar lagi ilang. Toh saya sudah minum air kelapa murni kok buat menetralisir. Lagian juga, gak ada sejarahnya Melly alergi cumi goreng juga ikan kerapu.

Saya sering kok makan ikan kerapu, kalo cumi memang rada-rada jarang. Dulu pernah gatal-gatal sehabis makan cumi, tapi itu dua tahun yang lalu. Itu pun cumi bakar, dan hanya sekedar gatal biasa. Tapi sekarang, LOOK AT MY SKIIIIIINNNN,

  (I lost the photo, sigh...)

Arrggghhhh, horribleeeeeee... kulit indahku tercemar. Rusaaaakkk, huhuhuhuhu... Sudah dua kali saya berobat tapi hasil yang didapat gak terlalu signifikan. But, thanks, God bengkak-bengaknya sudah mulai berkurang, even guatelnya masih puoooollll.

Hari ini saya nggak masuk kantor, seharusnya dari berobat pertama kali dokter nyuruh saya untuk nggak masuk kantor, tapi karena sudah dua hari cuti jadi ada perasaan sedikit nggak enak untuk gak masuk lagi. Tapi lagi-lagi semalam dokter menyuruh saya untuk stay dirumah, istirahat, gak boleh kena panas matahari dan gak boleh kena air dingin. Belum lagi alergi ini sampai bikin dada saya sedikit nyesek juga.

Paraaahh, belum pernah saya sealergi ini sebelumnya. Rasa nikmatnya tak tertahankan, hikhikzz... Gak boleh digaruk pula, huaaa... So, teman-teman yang memang merasa punya kulit sensitif atau merasa sedikit alergi dengan salah satu jenis Seafood, pliss jangan makan seafood di Bali. Selama pemerintah Bali belum menanggulangi sampah dan bakteri-bakteri laut yang ada dilautannya mending jauh-jauh dhey sama yang namanya air laut ato hidangan seafoodnya.

No comments: